.

Sabtu, 20 Maret 2010

The Three Lions Diguncang Asmara

Final Liga Champions Berlabel tim unggulan, Inggris mendapat ancaman serius dari Aljazair. Selain lawan sulit terpantau “radar”, The Three Lions dirundung masalah internal yang lebih banyak faktor non teknis. Antara lain, kasus bintang-bintangnya saling berebut cewek. Oh la la la....

Final Liga Champion Betul, secara matematis, Inggris dinilai unggul satu bahkan dua level di atas Aljazair. Tidak hanya bermaterikan pemain komplet di tiap lini, Inggris belakangan menjelma jadi tim berkarakter berkat polesan pelatih Fabio “Don” Capello.

Namun, segala perbandingan itu bisa tidak ada artinya kalau Inggris tidak ekstra waspada terhadap Aljazair. Pasalnya, calon lawan Wayne Rooney cs ini bisa dibilang tidak terpantau “radar” alias belum dikenal betul gaya permainannya. Situasi dilematis ini sudah jauh hari dipertegas oleh Capello.

Menurutnya, tim-tim Afrika termasuk Aljazair (Afrika Utara), kekuatannya tidak bisa diremehkan. Selain bakal bermain di tanah airnya sendiri, tim asal Afrika sedang naik daun dan tidak bisa lagi dikatakan tertinggal seperti masa lalu. Secara khusus, Capello merasa yakin Aljazair berpotensi besar mengejutkan anak asuhnya.

“Melawan Aljazair akan menjadi pertandingan yang berat. Saya menaruh respek pada tim tersebut. Mereka menyingkirkan Mesir (di kualifikasi Piala Dunia). Jadi, Aljazair tentu lebih tangguh daripada Mesir,” kata Capello usai Inggris versus Mesir dalam partai uji coba, 3 Maret lalu.

Bukan kebetulan Inggris mengagendakan uji coba lawan Mesir yang akhirnya dimenangkan Frank Lampard dkk itu. Misi utamanya itu tadi, untuk meraba kekuatan Aljazair yang dianggap misterius.

Meski menang 3-1, namun Inggris harus bekerja keras karena sempat tertinggal lebih dulu. Ini menjadi peringatan saat menghadapi Aljazair. Apalagi, cobaan maha berat tengah melanda timnas yang ber-home base di stadion Wembley itu. Bukan soal teknis, tapi efeknya lebih dahsyat, yakni skandal esek-esek. Apalagi kalau bukan aksi John Terry yang meniduri gebetan Wayne Bridge sampai terbongkarnya rekam jejak playboy-nya Ashley Cole.

Skandal esek-esek para pemain Inggris memang bukan berita baru. Tapi tetap saja hot issue itu secara tidak langsung mempengaruhi perjalanan Inggris yang dimulai dari Grup C. Secara langsung bahkan bakal lebih destruktif lagi untuk modal melawan Aljazair, tim yang diwaspadai Capello sekaligus diunggulkan oleh legenda Zinedine Zidane untuk lolos ke 16 besar.

Sebaliknya, meskipun tidak dikarunai banyak pemain berkaliber dunia, Aljazair justru bisa melaju dengan sikap religiusitas yang tinggi. Pelatih Aljazair Rabah Saadane, telah sukses membawa “tim semenjana” itu lolos ke Piala Dunia. Konsep itu antara lain diterjemahkan Saadane dengan melarang keras pemain keluyuran di malam hari.

Di bawah racikannya pula, Aljazair menjelma jadi meteor baru sepak bola dengan bermaterikan para pemain muda yang berspirit juang tinggi. “Inilah keadilan. Tuhan memberi kami kekuatan untuk berjuang bangkit meraih hasil bersejarah. Bersamanya (Tuhan), bukan tidak mungkin kami bisa bermimpi lebih jauh di final Piala Dunia,” kata striker andalan The Fennecs Rafik Saifi.

So, menyoal laga ini, sebaiknya tidak melihat perbandingan berdasarkan ukuran kebintangan pemain. Tapi lebih menarik menyoroti bagaimana kekuatan moralitas di kedua kubu untuk mencoba meraih kemenangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar